Pesan Berantai

Pesan Berantai

Sebagai manusia yang hidup di era digital. Arus informasi menerpa deras dari berbagai media baik secara individu maupun kelompok. Era digital memungkinkan akses dan sumber informasi dapat diteruskan dan didisktribusikan kembali secara lebih mudah. Dalam satu sisi, ini menjadi indikator ‘baik’, bahwa informasi dan pengetahuan dapat diperoleh secara mudah.

Disisi lain, terdapat juga hal yang menjadi concern dan perlu ditindak lanjuti. Derasnya arus informasi, membuat kami, manusia untuk bijak memilih dan memilah. Bijak memilih dan memilah itu tentunya perlu didefinisikan secara lebih komprehensif sesuai dengan Hak Asasi Manusia yang diakui dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia, serta Undang- Undang Dasar Negara Indonesia tahun 1945.

Derasnya terpaan informasi, terkadang membuat sebagian diri kita mengernyitkan dahi. Bertanya apa maksud dari informasi yang kita terima. Atau mungkin menghegemoni, menguatkan pemahaman kita akan suatu hal tanpa kemudian mengajak nalar logika atau hati nurani berkompromi.

Mari, kami ajak untuk mengsinkronkan nalar logika dan hati nurani sejalan dengan deklarasi Hak Asasi Manusia.

Awal Juli lalu, terdapat pesan berantai (broadcast message) melalui salah satu media era digital, Black Berry yang kami terima. Dalam tehnologi Black Berry, memungkinkan setiap orang yang terhubung dalam daftar kontaknya menerima pesan-pesan dari sesama anggota. Hal ini tentu positif, namun ada hal yang kontradiktif manakala pesan yang kami terima berupa pesan yang mendiskriminasi, mendeskritkan bahkan menginjak harkat dan martabat kami sebagai manusia.
Beginilah bunyi pesan berantai tersebut:

**Berdasarkan info Pimpinan MUI, bahwa pada tanggal 3-4 Juli 2013 nanti, Komnas HAM akan mengadakan Sidang Paripurna tentang Pengesahan Status Hukum dan Eksistensi LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).***
Dari beberapa sumber
Diedarkan Admin Assunah
Dengan kata lain, jika hal itu lolos dan menjadi sebuah produk hukum, maka kita harus menerima keberadaan Bencong, Waria, Homo & Lesbi, sekalipun menimpa keluarga kita.
Bisa dibayangkan jika hal ini terjadi, pernikahan sesama jenis akan marak terjadi dan mengancam populasi manusia serta beredarnya penyakit kelamin.
Tidak ada satu agama pun yang mengakui/ mengizinkan/ merestui keberadaan LGBT, selain dengan memberikan pengobatan dan mengarahkan pada status gender yang sebenarnya.
Ayo, arahkan, obati dan berikan tentang BAHAYA LGBT jika diantara sanak keluarga, orang terdekat dan tetangga kita ada yang mengalami “penyimpangan” perilaku seksual.
Jangan beri kesempatan LGBT berkembang di negara kita tercinta.
MOHON KIRIMKAN surat penolakan ke info@komnasham.go.id dan nasution68@gmail.com dengan menuliskan “KAMI MENOLAK DISAHKANNYA STATUS HUKUM DAN EKSISTENSI LGBT DI INDONESIA”
Yuk, jadikan negara ini BEBAS dari Penyimpangan Seksual dan Penyakit Kelamin.
(Sebarkan!)****

komnas-ham

Acapkali dalam hati bertanya-tanya. Siapakah sumber utama penyebar informasi ini? MUI kah? Begitukan ‘label’ yang dilekatkan kepada kelompok LGBT, sebagai penyimpang seksual dan penyebar penyakit kelamin?
Secara langsung otak dan hati nurani bertanya-tanya. Padahal jelas sejak 17 Mei 1990, WHO menghapus homoseksualitas dari Daftar Penyakit Mental (penyimpangan) yang sebelumnya pernah tercantum dalam International Classification of Disease. Sejak saat itulah Badan Kesehatan Dunia secara khusus dan kemudian disusul oleh Badan-Badan Dunia lainnya menempatkan komunitas LGBTI setara dengan masyarakat lainnya, memiliki hak-hak yang sama, Hak Asasi Manusia yang berlaku universal Dukungan Badan Dunia (PBB) terhadap penegakan HAM masyarakat LGBTI diseluruh dunia hingga saat ini masih terus berlangsung dan tetap akan terus berlangsung. PBB menyebutkan sekurangnya masih ada 76 negara di dunia yang mengkriminalisasi konsensual hubungan sesama jenis, bahkan beberapa diantaranya masih menerapkan hukuman mati bagi homoseksual. Secara umum, diseluruh dunia keberadaan LGBTI masih sangat terancam dengan segala tindak pelecehan, diskriminasi, dan kekerasan yang berlangsung secara berkelanjutan.

Pesan berantai tersebut tentulah merupakan bagian dari Homophobic bullying. Tidak disadari bahwa melalui teks yang tertulis, penyebar pesan melakukan perilaku intimidasi pada siapa saja yang dianggap berbeda atau di luar “norma”, yang dimotivasi oleh prasangka terhadap orientasi seksual atau identitas gender seseorang baik yang nyata maupun hanya dugaan.

Jadi, pesan berantai tersebut jelas melakukan serangan homofobia yang membabi buta. Kerap tidak selalu tertuju pada orang-orang dengan orientasi seksual dan identitas jender yang ‘nampak’ berbeda saja, akan tetapi heteroseksual dengan ekspresi jender yang terlihat berlawanan dengan konstruksi masyarakat yang berlaku umum bisa juga menjadi korban.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh UNESCO, homophobic bullying adalah bullying yang berada dalam posisi kedua terbesar di seluruh dunia. Tidak mengherankan, melalui teknologi digital penyebaran homophobic bullying semakin tidak dapat dicegah. Teks kebencian seperti contoh diatas merupakan stimulan terjadinya kekerasan di dunia fisik (nyata) seperti kekerasan yang dilakukan oleh aparat-aparat penegak hukum, penyerangan yang dilakukan oleh ormas-ormas berbasis keagamaan, diskriminasi yang dilakukan diberbagai tempat seperti sekolah, tempat kerja, dan lain-lain adalah beberapa bentuk pembiaran yang dilakukan oleh negara terhadap komunitas LGBTI di Indonesia.

Kontradiktif terhadap masifnya arus informasi pada era digital saat ini membuktikan bahwa terdapat kemunduran yang lain salah satunya tidak terpenuhinya berbagai hak yang harusnya juga dimiliki oleh komunitas LGBTI, seperti hak kerja yang terabaikan, kebebasan berekspresi dan berpendapat, dan lain-lain. Diskriminasi dan pelanggaran ini adalah bentuk lain yang menegaskan bahwa negara sedang menutup mata terhadap eksistensi komunitas LGBTI di Indonesia.

*** EROTICS INDONESIA
(Ni Loh Gusti Madewanti)

Leave a Comment